Sejarah Cigugur dalam Versi Lain

WILAYAH Kuningan, sebuah kota kecil berada di bawah kaki Gunung Ciremai. Gunung ini merupakan salah satu gunung tertinggi di Jawa Barat, banyak menyimpan objek wisata yang bervariasi dari mulai keindahan alamnya yang masih alami, peninggalan-peninggalan prasejarah sampai awal sejarah. Selain itu juga masih menyimpan pesta budaya yang dilakukan setiap tahun yaitu Seren Tahun. Objek wisata yang tak kalah menarik adalah keberadaan Ikan Dewa sebagai bekas kota peninggalan zaman prasejarah, Kuningan tidak hanya memiliki situs-situs prasejarah berupa benda mati, tetapi juga mempunyai fosil hidup yang merupakan peninggalan zaman purba dan satu-satunya ikan yang ada di nusantara. Ikan ini tersebar di tiga tempat, yakni di Kolam Renang Cigugur Desa Cigugur Kecamatan Cigugur, Kolam Renang Darmaloka Desa Darma Kecamatan Darma dan Kolam Renang Cibulan Desa Manis Kidul Kecamatan Jalaksana. Masyarakat Kuningan biasanya menyebutnya dengan Ikan Dewa atau Kancra Putih, Konon keberadaan ikan ini tidak terlepas dari sejarah perkembangan agama Islam di Kabupaten Kuningan. Sebagai contoh kisah keberadaan Kolam Renang Cigugur, menurut cerita, nama Cigugur sebelumnya adalah Dusun Padara. Padara diambil dari nama wiku atau pertapa sakti bernama Ki Gedeng Padara. Dusun Padara waktu itu hanyalah sebuah perkampungan biasa yang masyarakat cukup sulit untuk mendapatkan air, kalaupun ada sebuah mata air kecil yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup. Tak jauh dari mata air itu tinggal seorang yang bernama Ki Gedeng Padara yang mempunyai kesaktian luar biasa. Dengan kesaktian yang dimiliknya dia bisa melihat anggota tubuh bagian dalam dari luar. Sehinggga saat itu tak ada satu orang pun yang sanggup menandingi kesaktiannya, semua orang sangat menghormatinya. Apalagi Eyang Padara sebutan lain dari Ki Gedeng Padara mempunyai sifat yang baik terhadap masyarakat. Singkat cerita Eyang Padara, lama-lama bosan tinggal di dunia apa lagi usianya terus bertambah hingga ratusan tahun lebih. Karena merasa bosan tinggal di dunia, Eyang Padara memohon meminta mati kepada Dewa tetapi keinginan tersebut tidak dapat terwujud. Sampailah suatu hari datanglah seorang ulama besar Syekh Syarif Hidayatullah yang diberi tugas untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Kabupaten Kuningan oleh Sunan Ampel. Syarif Hidayatullah mengetahui Eyang Padara mempunyai keinginan supaya cepat mati. Untuk mewujudkan keinginan itu Eyang Padara diajak untuk masuk agama Islam. Karena ingin terwujud maka menyanggupi masuk agama Islam. Waktu itu agama yang dianutnya adalah agama Sanghiang. Membaca shadat Sebagai syarat untuk masuk agama Islam, ia harus membaca dua kalimat Syahadat, tetapi sebelumnya harus bersuci atau berwudhu. Dengan kesaktian yang dimiliki Syarif Hidayatullah dan tidak lupa memohon doa kepada Allah SWT ia menancapkan tongkat pada tanah, maka keluarlah air yang sangat besar dan membentuk sebuah kolam. Tidak menunggu lama lagi Eyang Padara kemudian berwudhu atau bersuci. Setelah itu membaca dua kalimat syahadat dibimbing oleh Syarif Hidayatullah. Tetapi sebelum kalimat selesai Eyang Padara, menghilang seolah-olah ditelan bumi, tak lama setelah itu turunlah hujan sangat lebat disertai suara petir. Dari mulai saat itu masyarakat menamakan Kampung Cigugur yang mempunyai arti gugurnya ilmu yang dimiliki oleh Eyang Padara. Selanjutnya kolam tersebut oleh Syarif Hidayatullah ditanami Ikan Kancra Putih, yang sekarang terkenal dengan nama Ikan Dewa, sampai sekarang masyarakat Cigugur tidak pernah kekurangan air malahan sebagian besar masyarakat Kuningan kebutuhan air dipasok dari kolam Cigugur yang dikelola oleh PDAM Kuningan. Ikan Dewa ini sepintas mirip ikan hiu karena mempunyai sirip di bagian punggung warnanya biru kehijuan. Dinamakan ikan Dewa selain usianya ratusan tahun, ikan ini juga mempunyai kekuatan mistik yang sangat kuat dan mempunyai keunikan dibandingkan dengan jenis ikan lainya. Pada setiap malam Jum\’at kliwon pada bulan mulud ketiga kolam ini selalu ramai dikunjungi oleh para nelayan dari luar kota, mereka berharap dengan cara mandi kolam tersebut dapat berkah apalagi kalau mendapatkan sisik ikan tersebut, menurut kepercayaan masyarakat Kuningan akan mendapat keberhasilan dalam berbagai hal. Kalupun ikan ini ada yang mati para koncen di tiga kolam tersebut selalu menguburkannya dengan memakai kain kafan. Konon ikan ini juga bisa menghilang dan berada kolam yang lain (seperti ikan yang di kolam Darmaloka mendadak kosong dan berada di kolam Cigugur begitu juga sebaliknya) pada saat-saat tertentu seperti air kolam surut dan pada bulan purnama pada bulan tertentu. Masyarakat sangat mempercayai ikan yang bukan sembarang ikan, sehingga keberadanya disakralkan, sampai saat ini ikan tetap dilestarikan. Jangan sekali-kali mempunyai pikiran untuk menangkap apalagi untuk memakannya kalau tidak ingin mendapat kesialan. Tapi jangan salah, kendati ikan ini dianggap keramat tetapi ikan ini sangat jinak bahkan mau berenang bersama pengunjung yang datang ke kolam. Bahkan pengunjung dapat menyentuhnya apa lagi dengan membawa popcorn (jagung borondong) atau roti yang dilemparkan. Dengan sendirinya ikan tersebut akan berkumpul dekat kita pastinya akan menjadi suatu pengalaman yang tidak terlupakan. Jumlah ikan yang ada disetiap kolam renang tersebut rata-rata berjumlah 3.000 ekor dan berat pun bervariasi ada yang ukuranya sebesar pergelangan tangan orang dewasa juga ada yang beratnya mencapai 8 Kg. Anda penasaran dan ingin mengujungi? Silahkan datang ke Kuningan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s