Pesan dari Sang Uskup “Duc in Altum!”

Bumi dengan segala isinya serta alam semesta merupakan tempat kediaman seluruh penduduk bumi. Bila diurus dan diolah secara bertanggungjawab, bumi akan cukup menyediakan hasil yang menjadi rejeki bagi semua penghuninya. Tetapi bumi tidak akan cukup untuk memuaskan keserakahan manusia. Karena ketidakadilan dalam distribusi sumber daya dan kekuasaan, maka yang kaya kian kaya, yang miskin semakin tidak tertolong dan tak punya harapan, kelas menengah kian tersungkur.20 Sumber daya alam bukan tidak terbatas. Bila pohon-pohon di hutan ditebangi terus-menerus secara ilegal tanpa usaha menanam pohon-pohon baru, hutan akan menjadi tandus dan berubah menjadi padang pasir yang kering kerontang. Bila tambang-tambang dikuras akhirnya akan habis juga. Bila air tidak dihemat, orang-orang akan sulit juga memenuhi kebutuhan akan air. Bila proses pemanasan bumi meningkat terus, dan mencairkan salju di puncak-puncak gunung yang tinggi serta es pada kutub-kutub bumi, akan tenggelamlah sebagian daratan yang sekarang ada. Bila itu terjadi, bencana-bencana alam secara bertubi-tubi menyengsarakan seluruh penduduk di muka bumi. Menjaga keutuhan ciptaan hendaknya diwujudkan dalam berbagai usaha melestarikan keseimbangan lingkungan hidup. Maka pastoral yang kita kembangkan adalah pastoral yang peduli pada pelestarian keseimbangan lingkungan hidup (eko-pastoral). Oleh karena itu, perlu kita upayakan suatu cara hidup organik, yang didukung misalnya oleh pertanian ramah lingkungan, yang memproduksi hasil-hasil tanaman organik. Upaya tersebut perlu didukung dengan membangun habitus baru dalam hidup, yaitu hidup hemat dalam segala bidang, misalnya berani mengatakan cukup dalam menggunakan sarana-sarana bagi hidup yang wajar; membeli barang-barang tidak berdasarkan pada keinginan melulu, tetapi pada kebutuhan nyata yang betul-betul untuk hidup sederhana. Habitus baru yang perlu dilakukan adalah menjadikan muka bumi ini taman yang indah, tempat semua penduduk tinggal bersama sebagai saudari dan saudara dalam keadilan dan perdamaian (dalam: Nota Pastoral tentang Ardas KAS 2006-2010, hal. 42-43). Dengan tindakan nyata apa kita mewujudkan mimpi tesebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s